Lebaran Identik dengan Santan dan Kue Manis: Bagaimana Dampaknya bagi Tubuh?

Lebaran identik dengan berbagai hidangan khas yang kaya rasa. Opor ayam, rendang, sambal goreng ati, hingga aneka kue kering dan minuman manis hampir selalu hadir sebagai hidangan. Tidak jarang pula selama masa libur Lebaran pola makan menjadi berubah, porsi makan meningkat, dan frekuensi konsumsi makanan tinggi lemak serta tinggi gula juga menjadi lebih sering.

Bagi sebagian orang, kondisi ini sering diikuti dengan keluhan seperti berat badan yang meningkat, tubuh terasa lebih mudah lelah, atau perut terasa lebih penuh dari biasanya. Kondisi tersebut sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah melalui cara tubuh merespons asupan energi dari makanan.

Dalam ilmu gizi, berat badan pada dasarnya dipengaruhi oleh keseimbangan energi, yaitu hubungan antara energi yang masuk dari makanan dan energi yang digunakan oleh tubuh untuk aktivitas serta metabolisme. Jika asupan energi lebih besar daripada energi yang digunakan, kelebihan energi tersebut dapat disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan dengan kandungan lemak tinggi cenderung lebih mudah menyebabkan kelebihan asupan energi. Lemak memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan makronutrien lainnya, sehingga dalam jumlah kecil pun dapat memberikan kalori yang cukup besar. Selain itu, makanan tinggi lemak juga diketahui memiliki efek kenyang yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa jenis makanan lainnya, sehingga seseorang akan mengkonsumsi dalam jumlah lebih banyak tanpa disadari.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa makanan yang kaya santan atau lemak sering kali terasa “ringan” untuk dimakan dalam jumlah lebih banyak. Padahal, secara energi, makanan tersebut dapat memberikan asupan kalori yang cukup tinggi.

Selain lemak, konsumsi gula juga sering meningkat saat Lebaran, terutama melalui berbagai kue kering dan minuman manis. Kombinasi makanan tinggi lemak dan tinggi gula diketahui dapat meningkatkan kecenderungan makan berlebih dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Meskipun demikian, menikmati makanan khas Lebaran tentu bukanlah hal yang harus dihindari sepenuhnya. Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan pola makan. Mengatur porsi, menjaga variasi makanan, serta tetap melakukan aktivitas fisik yang dapat membantu tubuh mempertahankan keseimbangan energi.

Selain itu, setiap orang memiliki kondisi metabolisme dan kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda. Faktor seperti usia, tingkat aktivitas, kondisi kesehatan, hingga komposisi tubuh dapat mempengaruhi bagaimana tubuh merespons pola makan tertentu.

Karena itu, bagi sebagian orang yang ingin menjaga berat badan atau memperbaiki pola makan setelah periode makan berlebih seperti saat Lebaran, konsultasi dengan tenaga profesional di bidang gizi dapat menjadi langkah yang bermanfaat. Melalui evaluasi pola makan, komposisi tubuh, serta gaya hidup, program pengaturan nutrisi dapat disusun sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Di SKIN 3 Clinic, konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi dapat membantu pasien memahami pola makan yang lebih seimbang serta menyusun strategi pengelolaan berat badan yang lebih tepat. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga pada upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh dalam jangka panjang.

Referensi:

Malik, V. S., Schulze, M. B., & Hu, F. B. (2006). Intake of sugar-sweetened beverages and weight gain: a systematic review. The American journal of clinical nutrition, 84(2), 274–288. https://doi.org/10.1093/ajcn/84.1.274 
Woolf, E. K., Cabre, H. E., Niclou, A. N., & Redman, L. M. (2024). Body Weight Regulation. Endotext [Internet]. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK278932/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top