Banyak orang yang merasa kulitnya sering perih, merah, gatal ringan, atau terbakar saat memakai skincare, namun bingung apakah itu sekadar “kulit sensitif” atau justru tanda kondisi medis seperti dermatitis atau rosasea. Tidak jarang pasien mencoba berbagai produk tanpa hasil konsisten, yang justru membuat kulit semakin reaktif. Ketidaktahuan ini sering membuat seseorang menjadi frustasi karena treatment yang dilakukan tidak efektif, padahal penyebabnya berbeda antara kulit sensitif biasa dan masalah kulit medis yang perlu penanganan khusus.
Menurut penelitian Goh dkk. (2023), kondisi kulit yang sering dianggap “sensitif” bisa memiliki asal yang berbeda-beda, termasuk acne, rosasea, dermatitis atopik, maupun sensitive skin syndrome yang tidak mempunyai penyebab medis yang jelas tetapi tetap menunjukkan gejala reaktifitas kulit. Para ahli sepakat bahwa rutinitas cleansing, moisturization, photoprotection (perlindungan terhadap sinar matahari), serta pendekatan holistik diperlukan untuk mengelola semuanya dengan benar agar tidak salah kaprah dalam memilih produk dan treatment.
Kulit sensitif sering digambarkan sebagai kulit yang mudah terasa perih, gatal, atau terbakar ketika memakai produk skincare tertentu. Ini bisa terjadi pada siapa saja dan biasanya tidak selalu disertai perubahan struktur kulit yang jelas. Dalam penelitian Goh dkk. (2023), disebutkan bahwa sensitive skin syndrome adalah kondisi di mana seseorang melaporkan reaksi seperti terbakar atau gatal tanpa tanda medis spesifik yang mudah diidentifikasi. Masalah ini sering membuat pasien bingung karena gejalanya bisa mirip dengan kondisi medis lain seperti dermatitis atau rosacea.
Sementara itu, dermatitis merujuk pada kelompok kondisi medis yang ditandai oleh peradangan kulit yang berulang, biasanya disertai dengan ruam, kering, bersisik, dan rasa gatal yang lebih kuat. Contoh umum adalah dermatitis atopik, yang sering muncul karena gangguan pada fungsi skin barrier atau pelindung kulit, sehingga kulit menjadi lebih rentan terhadap iritan dan alergen. Dalam kasus dermatitis, gejalanya lebih jelas secara klinis dibandingkan kulit sensitif biasa dan sering membutuhkan pendekatan perawatan medis yang lebih spesifik.
Disisi lain, rosasea adalah kondisi inflamasi kronis yang sering ditandai dengan kemerahan pada wajah, pembuluh darah yang terlihat jelas, sensasi panas, serta kemungkinan munculnya jerawat kecil atau papulopustular di area tengah wajah. Rosacea cenderung lebih stabil sebagai suatu penyakit yang berlangsung lama dan sering dipicu oleh faktor-faktor seperti paparan panas, alkohol, pedas, atau stres. Ini berbeda dari sensasi kulit sensitif yang bisa muncul sesaat setelah pemakaian produk yang tidak cocok atau kondisi lingkungan tertentu.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah pasien menyimpulkan semua gejala seperti “kulit reaktif” sebagai kulit sensitif biasa. Akibatnya, banyak yang hanya memakai krim pelembap atau toner tanpa melakukan evaluasi medis lebih lanjut. Padahal, dalam penelitian Goh dkk. (2023), disebutkan bahwa perbedaan diagnosis sangat penting karena masing-masing kondisi membutuhkan pendekatan perawatan yang berbeda. Misalnya, treatment untuk rosacea biasanya melibatkan terapi anti-inflamasi dan photoprotection intensif, sementara dermatitis lebih fokus pada pemulihan skin barrier dan menghindari pencetus alergi atau iritan.
Selain itu, pasien sering merasa bingung tentang urutan dan pemilihan skincare yang benar. Rutinitas holistik yang mencakup pembersihan lembut (cleansing), penggunaan moisturizer yang menenangkan, serta photoprotection sangat berperan penting dalam mengurangi gejala tanpa memperparah kondisi kulit. Ini penting tidak hanya untuk kulit sensitif saja, tetapi juga untuk pasien dengan rosasea dan dermatitis, karena tujuan utama perawatan adalah menjaga skin barrier tetap utuh dan terhindar dari iritasi yang tidak perlu.
Pemahaman yang tepat mengenai perbedaan antara kulit sensitif, dermatitis, dan rosacea membantu pasien memilih treatment yang tepat, serta menghindari produk atau prosedur yang justru dapat memperburuk kondisi kulit. Karena itu, edukasi dari tenaga medis berpengalaman menjadi salah satu kunci keberhasilan perawatan jangka panjang.
Di SKIN 3 Clinic, evaluasi kondisi kulit dilakukan secara menyeluruh untuk membedakan apakah keluhan seperti kemerahan, gatal, atau terbakar itu merupakan tanda kulit sensitif, dermatitis, atau rosasea. Pendekatan holistik yang dipandu oleh tenaga medis membantu menentukan strategi perawatan yang paling sesuai dengan kondisi individual sehingga hasilnya lebih aman dan efektif.
Seluruh penanganan kulit sensitif dan gangguan inflamasi lainnya di SKIN 3 Clinic dilakukan oleh Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika, sehingga diagnosis akurat dan terapi disesuaikan secara personal. Dengan panduan medis yang tepat, pasien dapat memahami kondisi kulitnya dan mencapai hasil perawatan yang lebih stabil dan memuaskan.
Sumber:
Goh, Chee‐Leok, et al. “Expert consensus on holistic skin care routine: focus on acne, rosacea, atopic dermatitis, and sensitive skin syndrome.” Journal of Cosmetic Dermatology 22.1 (2023): 45-54. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36409588/