Jerawat merupakan kondisi kulit yang umum terjadi dan dapat meninggalkan bekas setelah proses peradangannya mereda. Bekas jerawat ini sering muncul dalam bentuk bercak berwarna lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai hiperpigmentasi pasca-inflamasi (post-inflammatory hyperpigmentation atau PIH), yaitu perubahan warna kulit akibat peningkatan produksi melanin setelah terjadinya peradangan, termasuk jerawat (Davis & Callender, 2010; Elbuluk et al., 2021).
Proses terbentuknya bercak hiperpigmentasi ini berkaitan erat dengan respons alami kulit terhadap inflamasi. Ketika jerawat terjadi, kulit mengalami peradangan yang dapat merangsang sel melanosit untuk memproduksi melanin dalam jumlah lebih banyak. Melanin merupakan pigmen yang memberikan warna pada kulit, sehingga peningkatan produksinya dapat menyebabkan area bekas jerawat tampak lebih gelap dibandingkan jaringan kulit di sekitarnya (Elbuluk et al., 2021).
Selain faktor inflamasi, paparan sinar matahari juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi tersebut. Sinar ultraviolet (UV) diketahui memiliki berbagai efek biologis pada kulit, termasuk merangsang produksi melanin sebagai bagian dari mekanisme perlindungan alami kulit terhadap radiasi (D’Orazio et al., 2013). Pada kulit yang memiliki PIH, paparan ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan pigmentasi sehingga warna bekas jerawat dapat tampak lebih jelas atau lebih gelap.
Selain itu, radiasi UV juga diketahui dapat memicu stres oksidatif serta meningkatkan respons inflamasi pada kulit (D’Orazio et al., 2013). Pada kulit yang sebelumnya telah mengalami peradangan akibat jerawat, kondisi ini dapat berperan dalam memperlambat proses pemulihan kulit. Akibatnya, PIH dapat bertahan lebih lama dibandingkan tanpa paparan faktor tersebut.
Penting untuk dipahami bahwa perubahan warna menjadi lebih gelap ini terjadi pada bekas jerawat, bukan pada jerawat aktif. Jerawat aktif umumnya ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, atau adanya lesi, sedangkan PIH muncul setelah proses peradangan tersebut mereda (Davis & Callender, 2010).
Durasi PIH dapat bervariasi pada setiap individu. Dalam beberapa kasus, noda dapat memudar dalam hitungan bulan, namun pada kondisi tertentu dapat bertahan lebih lama, terutama jika kulit terus terpapar faktor yang dapat merangsang produksi melanin, seperti sinar matahari (Davis & Callender, 2010; D’Orazio et al., 2013).
Perlindungan terhadap sinar matahari menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu meminimalkan risiko penggelapan bekas jerawat. Penggunaan sunscreen serta pembatasan paparan sinar UV secara langsung dapat membantu mengurangi stimulasi melanin berlebih pada kulit. Dengan demikian, proses pengembalian warna kulit dapat berlangsung lebih optimal.
Di SKIN 3 Clinic, pasien dapat memperoleh panduan langsung dari Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika untuk menentukan perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing. Pendekatan yang diberikan bersifat individual dan berbasis evaluasi medis, sehingga setiap tindakan tidak hanya mengikuti tren, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan kulit secara klinis, termasuk dalam menangani hiperpigmentasi akibat bekas jerawat.
Seluruh prosedur perawatan di SKIN 3 Clinic dilakukan di bawah pengawasan Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika, sehingga keamanan dan kesehatan kulit tetap menjadi prioritas utama. Dengan pendekatan yang tepat, berbagai tindakan perawatan dapat membantu memperbaiki tampilan kulit secara optimal tanpa meningkatkan risiko iritasi atau gangguan pada skin barrier.
Referensi:
Davis, E. C., & Callender, V. D. (2010). Postinflammatory hyperpigmentation: A review of the epidemiology, clinical features, and treatment options in skin of color. Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, 3(7), 20–31. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2921758/
Elbuluk, N., Grimes, P. E., & Taylor, S. C. (2021). The pathogenesis and management of acne-induced post-inflammatory hyperpigmentation. Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34468934/
D’Orazio, J., Jarrett, S., Amaro-Ortiz, A., & Scott, T. (2013). UV radiation and the skin. International Journal of Molecular Sciences, 14(6), 12222–12248. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3709783/