Berkeringat adalah hal alami yang membantu tubuh mengatur suhu. Namun, ketika keringat keluar lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh, bahkan saat tidak panas atau tanpa alasan jelas, kondisi ini sudah tidak normal lagi. Kondisi tersebut disebut hiperhidrosis atau keringat berlebih dan meskipun sering dipandang ringan, dampaknya bisa jauh lebih serius daripada yang disangka.
Sejumlah orang di masyarakat mengalami hiperhidrosis atau keringat berlebih. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi ini di Indonesia diperkirakan dialami oleh sekitar 3% populasi, khususnya pada hiperhidrosis primer, yaitu keringat berlebih yang tidak disebabkan oleh penyakit lain atau efek samping obat. Meski persentasenya tampak kecil, jumlah penderitanya sebenarnya cukup besar jika dilihat dari total populasi. Sayangnya, banyak orang masih menganggap keringat berlebih sebagai hal yang normal atau sekadar masalah kebersihan, sehingga kondisi ini sering tidak dikenali sebagai masalah medis dan jarang dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.
Hiperhidrosis biasanya muncul sejak usia muda dan dapat memengaruhi area tertentu seperti ketiak, telapak tangan, telapak kaki, atau wajah, meskipun bisa juga melibatkan lebih dari satu area tubuh sekaligus. Kondisi ini sering kali bersifat primer, artinya tidak ada penyakit lain yang menyebabkannya, tetapi juga bisa menjadi sekunder jika berkaitan dengan kondisi medis lain atau efek samping obat tertentu.
Meski keringat berlebih mungkin tidak membahayakan nyawa, pengaruhnya terhadap kualitas hidup sering tidak kecil. Banyak penderita merasa kurang percaya diri saat berjabat tangan, berkeringat yang berlebihan di ketiak saat bertemu orang baru, atau bahkan merasa cemas saat harus menulis karena telapak tangan yang selalu basah. Sebanyak 70% orang dengan hiperhidrosis mengalami keringat berlebih yang berat setidaknya di satu area tubuh, tetapi hanya sekitar setengahnya yang pernah berdiskusi dengan tenaga kesehatan tentang kondisinya.
Karena hiperhidrosis sering dianggap “bukan penyakit serius”, banyak orang mencoba berbagai produk over the counter tanpa hasil yang signifikan dan kadang menyebabkan iritasi dan meninggalkan bercak kehitaman di ketiak. Padahal, keringat berlebih bukan sekadar masalah kebersihan atau cuaca panas, ini adalah kondisi medis yang bisa terjadi bahkan saat suhu ruang normal atau tanpa aktivitas berat sama sekali. Mengenali kondisi ini sebagai masalah yang layak ditangani adalah langkah awal menuju solusi yang efektif.
Penyebab hiperhidrosis primer belum sepenuhnya dipahami secara pasti, tetapi diduga melibatkan aktivitas berlebihan dari sistem saraf simpatis yang memberi sinyal kepada kelenjar keringat untuk bekerja secara berlebihan. Faktor genetik juga sering terlibat, karena sekitar 30 – 65% penderita hiperhidrosis melaporkan adanya anggota keluarga yang mengalami gejala serupa.
Ada dua bentuk utama hiperhidrosis:
- Hiperhidrosis fokal primer yaitu keringat berlebih terjadi di area tertentu, seperti ketiak, telapak tangan, telapak kaki, atau wajah, tanpa penyebab medis lain yang jelas.
- Hiperhidrosis sekunder yaitu keringat berlebih terjadi di seluruh tubuh atau di area luas karena kondisi medis seperti gangguan hormonal, infeksi, atau efek samping obat.
Penanganan hiperhidrosis bisa dimulai dari langkah sederhana yang sering direkomendasikan dokter kulit, seperti penggunaan antiperspiran resep khusus, perubahan pola pakaian, atau modifikasi gaya hidup. Untuk kasus yang lebih berat, terdapat pendekatan medis yang lebih spesifik, seperti terapi iontoforesis (teknik listrik ringan), injeksi botulinum toxin (Botox), atau obat oral yang membantu mengurangi produksi keringat.
Hal yang penting diingat adalah bahwa hiperhidrosis bukanlah tanda kurangnya kebersihan diri. Ini adalah kondisi medis nyata yang dapat mempengaruhi aspek fisik, sosial, dan psikologis seseorang seperti rasa malu, kecemasan saat beraktivitas sosial, sampai gangguan dalam pekerjaan. Pengobatan yang tepat dan penanganan yang sesuai dapat sangat membantu memperbaiki kualitas hidup penderita.
Di SKIN 3 Clinic, keluhan keringat berlebih akan dinilai secara menyeluruh oleh tim profesional untuk menentukan apakah kondisi tersebut termasuk hiperhidrosis primer atau sekunder, serta menentukan langkah terapi yang paling cocok bagi setiap pasien. Dengan evaluasi yang teliti serta pendekatan medis yang tepat, solusi dapat dirancang khusus untuk kebutuhan masing-masing pasien di SKIN 3 Clinic.
Seluruh pemeriksaan dan penanganan hiperhidrosis di SKIN 3 Clinic dilakukan di bawah pengawasan Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika, sehingga diagnosis dan terapi dapat diberikan secara profesional dan aman. Jika keringat berlebih sudah mulai mengganggu aktivitas harian atau kepercayaan diri Anda, konsultasi dengan dokter menjadi langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan yang efektif dan nyaman.
Sumber:
Doolittle, James, et al. “Hyperhidrosis: an update on prevalence and severity in the United States.” Archives of dermatological research 308.10 (2016): 743-749. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5099353/
Soetedjo, Catherine Patricia, et al. “Association between severity and locations of primary hyperhidrosis and quality of life among medical students.” JKKI: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia (2022).