Bintil kecil di kulit yang tampak sepele sering kali membuat orang tergoda untuk memencetnya sendiri. Apalagi jika di bagian tengah bintil terlihat seperti ada “isi” berwarna putih. Banyak yang mengira itu hanya jerawat biasa. Padahal, pada beberapa kondisi infeksi virus kulit, seperti molluscum contagiosum, bagian putih tersebut adalah inti badan virus yang justru menjadi sumber penularan.
Enukleasi adalah tindakan medis untuk mengangkat atau mengeluarkan inti badan virus dari dalam bintil kulit dengan cara yang aman dan terkontrol. Tujuan utama dari enukleasi bukan sekadar menghilangkan bintil yang terlihat, tetapi juga mengurangi jumlah virus di kulit agar tidak terus menyebar ke area lain atau ke orang lain.
Pada infeksi virus kulit tertentu, inti bintil berisi kumpulan virus aktif. Jika inti ini pecah atau keluar tanpa penanganan yang tepat, virus dapat menempel di kulit sekitarnya. Inilah sebabnya mengapa memencet bintil sendiri di rumah seringkali justru membuat jumlah bintil bertambah, bukan berkurang. Virus dapat berpindah melalui tangan, kuku, handuk, atau pakaian yang bersentuhan langsung dengan area tersebut.
Enukleasi dilakukan oleh dokter menggunakan alat medis khusus. Prosedur ini diawali dengan membersihkan area kulit untuk menurunkan risiko infeksi. Setelah itu, dokter akan membuka bagian atas bintil secara hati-hati dan mengeluarkan inti badan virus tanpa menekan berlebihan. Dengan teknik yang tepat, inti virus dapat diangkat secara utuh sehingga risiko penyebaran dapat diminimalkan.
Berbeda dengan memencet sendiri, tindakan enukleasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi kulit di sekitarnya. Dokter akan memastikan jaringan kulit tidak mengalami trauma berlebihan yang bisa menyebabkan iritasi atau bekas. Setelah inti virus diangkat, area kulit biasanya akan ditangani agar proses penyembuhan berjalan optimal.
Tindakan fisik seperti pengangkatan inti atau kuretase merupakan salah satu metode penanganan pada penyakit molluscum contagiosum. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi beban virus di kulit dan membantu menghentikan rantai penularan, terutama pada kasus dengan jumlah bintil yang banyak atau cepat menyebar. Meski terdengar sederhana, tindakan enukleasi tidak disarankan dilakukan sendiri di rumah. Risiko iritasi, perdarahan, infeksi sekunder, hingga munculnya bekas luka bisa terjadi jika prosedur dilakukan tanpa teknik dan alat yang sesuai. Selain itu, virus yang keluar tanpa kontrol dapat menyebar ke kulit lain dan menyebabkan infeksi baru.
Tidak semua kasus infeksi virus kulit harus langsung melakukan tindakan enukleasi. Pada kondisi ringan, dokter bisa saja menyarankan observasi atau terapi lain sesuai kebutuhan pasien. Namun, enukleasi sering dipertimbangkan bila bintil terasa mengganggu, sering digaruk, mudah berdarah, atau muncul di area yang terlihat seperti wajah dan leher. Selain tindakan enukleasi, edukasi kepada pasien juga menjadi bagian penting dari penanganan. Pasien dianjurkan untuk tidak menggaruk lesi, menjaga kebersihan kulit, serta tidak berbagi barang pribadi seperti handuk atau pakaian. Langkah-langkah ini membantu mencegah virus berpindah ke area kulit lain atau ke orang di sekitar.
Di SKIN 3 Clinic, penanganan infeksi virus kulit dilakukan secara menyeluruh. Tindakan enukleasi dipertimbangkan berdasarkan kondisi kulit, jumlah lesi, dan lokasi bintil, sehingga setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dan aman. Pendekatan ini membantu mengatasi masalah kulit tanpa meningkatkan risiko penyebaran virus di kemudian hari di SKIN 3 Clinic.
Seluruh tindakan enukleasi di SKIN 3 Clinic dilakukan di bawah pengawasan Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika, sehingga prosedur berjalan dengan teknik yang tepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan. Dengan penanganan yang benar, infeksi virus kulit dapat dikendalikan dengan lebih efektif dan nyaman bagi pasien.
Sumber:
Meza-Romero, Rodrigo, Cristián Navarrete-Dechent, and Camila Downey. “Molluscum contagiosum: an update and review of new perspectives in etiology, diagnosis, and treatment.” Clinical, cosmetic and investigational dermatology (2019): 373-381. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31239742/