Jerawat, Kulit Merah, dan Gatal Sering Kambuh? Ini Penyebab yang Jarang Disadari

Banyak orang sudah rutin membersihkan wajah, memakai skincare, bahkan menjalani treatment di klinik, tetapi masalah kulit seperti jerawat, kemerahan, atau rasa gatal tetap sering muncul. Kondisi ini sering membuat seseorang merasa frustasi dan mengira perawatan yang dilakukan tidak bekerja. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir,  ditemui fakta bahwa kesehatan kulit tidak hanya ditentukan oleh produk atau treatment, tetapi juga oleh keseimbangan mikroorganisme alami yang hidup di permukaan kulit, yang disebut sebagai mikrobiota kulit.

Mikrobiota kulit terdiri dari berbagai bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain yang secara alami hidup di kulit manusia. Dalam kondisi normal, mikrobiota ini membantu melindungi kulit dari infeksi, menjaga keseimbangan sistem imun, dan mendukung fungsi skin barrier. Dalam penelitian Condro dkk. (2022), dijelaskan bahwa ketika keseimbangan mikrobiota kulit terganggu, risiko terjadinya peradangan kulit seperti jerawat, dermatitis atopik, dan rosasea menjadi lebih tinggi.

Pada jerawat, ketidakseimbangan mikrobiota kulit sering dikaitkan dengan peningkatan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes. Bakteri ini sebenarnya merupakan bagian normal dari kulit, tetapi ketika jumlahnya berlebihan atau respon imun kulit terganggu, dapat memicu peradangan dan pembentukan jerawat. Dalam penelitian Condro dkk. (2022), disebutkan bahwa jerawat bukan hanya masalah bakteri semata, melainkan hasil interaksi kompleks antara mikrobiota, produksi minyak, dan sistem imun kulit.

Kondisi serupa juga terjadi pada dermatitis atopik atau eksim. Seseorang dengan dermatitis atopik sering mengalami kulit kering, gatal, dan mudah meradang. Dalam penelitian Condro dkk. (2022), dijelaskan bahwa pada penderita dermatitis atopik, keberagaman mikrobiota kulit cenderung menurun. Hal ini membuat kulit lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi, sehingga keluhan sering kambuh meskipun sudah menggunakan pelembap atau obat topikal.

Rosasea juga berkaitan dengan gangguan mikrobiota kulit. Penyakit ini ditandai dengan kemerahan wajah yang menetap, rasa panas, dan pembuluh darah yang tampak jelas. Dalam penelitian Condro dkk. (2022), disebutkan bahwa perubahan komposisi mikrobiota kulit dapat mempengaruhi respon peradangan pada rosasea, sehingga gejala dapat muncul berulang atau memburuk akibat faktor tertentu seperti stres, paparan panas, atau penggunaan produk yang tidak sesuai.

Gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan mikrobiota kulit. Terlalu sering mencuci wajah dengan sabun keras, penggunaan skincare berlapis dengan bahan aktif kuat, serta paparan polusi dan stres dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme alami kulit. Dalam penelitian Condro dkk. (2022), dijelaskan bahwa kerusakan skin barrier dapat mengubah lingkungan kulit dan memicu pertumbuhan mikroorganisme yang tidak seimbang.

Selain faktor dari luar, kondisi internal tubuh juga mempengaruhi mikrobiota kulit. Faktor stres, pola makan tidak seimbang, dan gangguan tidur juga dapat memicu peradangan sistemik yang berdampak pada kesehatan kulit. Karena itu, perawatan masalah kulit tidak bisa hanya berfokus pada permukaan, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Pemahaman tentang peran mikrobiota kulit membantu menjelaskan mengapa sebagian masalah kulit bersifat kronis dan mudah kambuh. Treatment yang hanya berfokus menghilangkan gejala tanpa memperbaiki keseimbangan kulit sering kali memberikan hasil sementara. Pendekatan modern dermatologi kini lebih menekankan pada pemulihan fungsi skin barrier dan menjaga keseimbangan mikrobiota agar kulit lebih stabil dalam jangka panjang.

Di SKIN 3 Clinic, penanganan masalah kulit seperti jerawat, dermatitis, dan rosasea dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi mikrobiota dan skin barrier kulit pasien. Evaluasi menyeluruh ini membantu menentukan perawatan yang tidak hanya mengobati gejala, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan kulit. 

Di SKIN 3 Clinic, seluruh penanganan dilakukan di bawah pengawasan Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika, sehingga setiap terapi disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing pasien. Dengan pendekatan yang tepat dan berbasis medis, masalah kulit yang sering kambuh dapat dikontrol dengan lebih baik dan hasil perawatan menjadi lebih optimal.

Sumber:

Condrò, Giorgia, et al. “Acne vulgaris, atopic dermatitis and rosacea: The Role of the Skin Microbiota—A Review.” Biomedicines 10.10 (2022): 2523. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36289784/  

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top