Tahi lalat sering dianggap sebagai bagian alami dari kulit, bahkan oleh sebagian orang dianggap sebagai ciri khas penampilan. Namun, dalam praktik klinis, tidak sedikit pasien yang datang dengan keluhan tahi lalat yang terasa mengganggu, mudah terluka, sering berdarah, atau mengalami perubahan bentuk dan warna. Ada pula yang merasa kurang percaya diri karena tahi lalat berada di area wajah atau bagian tubuh yang mudah terlihat. Kondisi ini membuat banyak orang mulai mempertimbangkan tindakan eksisi tahi lalat, meskipun masih disertai kekhawatiran terkait keamanan dan bekas luka.
Secara medis, tahi lalat dikenal sebagai melanocytic nevus, yaitu pertumbuhan jinak sel melanosit pada kulit. Dalam penelitian Sardana dkk (2014), dijelaskan bahwa sebagian besar melanocytic nevi bersifat jinak dan tidak memerlukan tindakan apa pun. Namun, beberapa nevus dapat mengalami perubahan seiring waktu dan memerlukan evaluasi lebih lanjut, terutama bila muncul tanda seperti perubahan ukuran, variasi warna, bentuk tidak simetris, tepi yang tidak beraturan, atau gejala seperti nyeri dan perdarahan.
Eksisi tahi lalat merupakan prosedur medis untuk mengangkat nevus secara menyeluruh hingga ke jaringan dasarnya. Metode ini berbeda dengan tindakan non bedah seperti laser atau kauterisasi yang hanya menghilangkan bagian permukaan. Dalam penelitian Sardana dkk (2014), dijelaskan bahwa eksisi bedah memiliki keunggulan karena memungkinkan pengangkatan jaringan secara lengkap serta memberikan kesempatan untuk pemeriksaan histopatologi apabila terdapat kecurigaan keganasan. Hal ini penting untuk memastikan diagnosis dan menurunkan risiko pertumbuhan ulang.
Tidak semua tahi lalat harus diangkat. Eksisi biasanya direkomendasikan bila terdapat indikasi medis, seperti perubahan klinis yang mencurigakan, iritasi berulang, lokasi yang mudah mengalami trauma, atau keluhan subjektif yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, eksisi juga dapat dilakukan atas pertimbangan estetika, terutama bila tahi lalat dapat mempengaruhi kenyamanan dan kepercayaan diri pasien. Dalam penelitian Sardana dkk (2014), ditekankan bahwa keputusan tindakan sebaiknya didasarkan pada evaluasi klinis yang cermat, bukan semata-mata karena alasan kosmetik atau kekhawatiran tanpa dasar medis.
Prosedur eksisi tahi lalat umumnya dilakukan dengan anestesi lokal, sehingga pasien tetap sadar tanpa merasakan nyeri selama tindakan berlangsung. Prosedur ini relatif singkat dan dilakukan dalam kondisi steril. Setelah nevus diangkat, luka akan ditutup dengan jahitan halus atau dibiarkan sembuh sesuai ukuran dan lokasi tindakan. Dokter akan memberikan edukasi mengenai perawatan luka serta tanda-tanda yang perlu diperhatikan selama proses penyembuhan.
Salah satu kekhawatiran yang paling sering disampaikan pasien adalah kemungkinan munculnya bekas luka. Setiap tindakan bedah memang memiliki potensi meninggalkan bekas, tetapi dengan teknik sayatan yang tepat, pemilihan metode eksisi yang sesuai, serta perawatan pasca tindakan yang optimal, hasil kosmetik yang baik dapat dicapai. Dalam penelitian Sardana dkk (2014), dijelaskan bahwa pengalaman dokter, lokasi nevus, dan karakteristik kulit pasien merupakan faktor penting yang mempengaruhi hasil akhir tindakan.
Masa pemulihan pasca-eksisi umumnya berjalan baik bila pasien mengikuti anjuran medis. Menjaga kebersihan luka, menghindari gesekan berlebihan, serta melindungi area bekas eksisi dari paparan sinar matahari langsung sangat dianjurkan. Paparan sinar ultraviolet dapat memicu penggelapan bekas luka dan memperburuk tampilan kosmetik. Oleh karena itu, penggunaan tabir surya setelah luka sembuh menjadi bagian penting dari perawatan lanjutan.
Menghilangkan tahi lalat secara mandiri dengan cara dipotong, dibakar, atau diolesi bahan tertentu tanpa pengawasan medis tidak disarankan. Tindakan tersebut berisiko menyebabkan infeksi, perdarahan, bekas luka yang tidak optimal, serta keterlambatan diagnosis bila terdapat perubahan sel yang berbahaya. Evaluasi oleh dokter sejak awal justru memberikan keamanan dan ketenangan bagi pasien.
c, dan hasil estetika. Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan apakah tindakan eksisi diperlukan, metode yang paling sesuai, serta perawatan pasca tindakan yang optimal sesuai kondisi kulit masing-masing.
Seluruh prosedur eksisi tahi lalat di SKIN 3 Clinic dilakukan oleh Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika, sehingga diagnosis dan terapi dilakukan secara profesional dan aman. Dengan penanganan yang tepat, eksisi tahi lalat dapat menjadi solusi untuk menjaga kesehatan kulit sekaligus meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri pasien.
Sumber:
Sardana, K., Chakravarty, P., & Goel, K. (2014). Optimal management of common acquired melanocytic nevi (moles): current perspectives. Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology, 89-103. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24672253/