Muncul benjolan kecil di area kelamin seringkali memicu rasa panik, cemas, atau bahkan malu untuk berkonsultasi. Banyak orang memilih menunggu dengan harapan benjolan tersebut akan hilang sendiri, sementara sebagian lainnya mencoba mengobati secara mandiri tanpa mengetahui penyebabnya. Padahal, kelainan kulit di area genital tidak selalu berbahaya, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan adalah infeksi human papillomavirus atau HPV, virus yang sangat umum namun masih sering disalahpahami oleh masyarakat.
HPV merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi kulit dan selaput lendir, termasuk di area kelamin. Dalam penelitian Maghiar dkk (2024), dijelaskan bahwa terdapat lebih dari 200 tipe HPV, dengan karakteristik yang berbeda-beda. Sebagian tipe tergolong low-risk dan paling sering menyebabkan kutil kelamin, sementara tipe high-risk berhubungan dengan perubahan sel yang dapat meningkatkan risiko kanker serviks, anus, dan area genital lainnya. Karena itu, mengenali kelainan kulit genital sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah masalah yang lebih serius.
Kutil kelamin merupakan manifestasi HPV yang paling sering dijumpai. Kutil ini biasanya tampak sebagai tonjolan kecil berwarna kulit, putih, atau keabu-abuan, dengan permukaan halus atau menyerupai bunga kol. Kutil dapat muncul satu atau berkelompok, dan sering kali tidak menimbulkan nyeri. Karena tidak terasa sakit, banyak orang baru menyadari keberadaannya ketika ukuran atau jumlah kutil bertambah. Pada sebagian kasus, kutil dapat disertai rasa gatal, perih, atau tidak nyaman saat beraktivitas.
Penularan HPV terutama terjadi melalui kontak kulit ke kulit, termasuk hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral. Virus ini dapat menular meskipun tidak terlihat kutil atau luka yang jelas. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa penggunaan kondom dapat membantu menurunkan risiko penularan, tetapi tidak memberikan perlindungan sepenuhnya karena HPV dapat menginfeksi area kulit yang tidak tertutup kondom. Hal inilah yang membuat HPV menjadi salah satu infeksi menular seksual yang paling umum.
Selain kutil kelamin, HPV juga dapat menyebabkan kelainan kulit yang tidak selalu terlihat jelas, seperti lesi datar atau perubahan sel yang bersifat subklinis. Pada tipe high-risk, infeksi sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi dapat menyebabkan perubahan sel dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan meskipun kelainan kulit tidak tampak mencolok atau tidak menimbulkan keluhan.
Salah satu upaya pencegahan HPV yang banyak dibahas saat ini adalah vaksinasi. Dalam penelitian Maghiar dkk (2024), disebutkan bahwa vaksin HPV efektif dalam mencegah infeksi tipe virus tertentu yang paling sering menyebabkan kutil kelamin dan kanker serviks. Vaksinasi tidak hanya dianjurkan untuk remaja, tetapi juga dapat diberikan pada dewasa sesuai indikasi medis. Edukasi mengenai vaksin HPV menjadi semakin penting karena masih banyak masyarakat yang menganggap vaksin ini hanya diperlukan bagi perempuan atau hanya sebelum menikah.
Penanganan kutil kelamin akibat HPV tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Penggunaan obat oles tanpa diagnosis yang tepat justru berisiko menyebabkan iritasi, luka, atau memperburuk kondisi kulit. Terapi dapat berupa obat topikal, krioterapi, kauterisasi, atau prosedur medis lain yang disesuaikan dengan jumlah, ukuran, dan lokasi kutil. Penting untuk dipahami bahwa terapi bertujuan menghilangkan lesi yang tampak, sementara virus dapat tetap berada dalam tubuh.
HPV juga dapat bersifat laten, artinya virus tetap ada meskipun kutil telah diobati dan menghilang. Faktor seperti daya tahan tubuh, stres, kebiasaan merokok, dan kondisi kesehatan umum berperan dalam kekambuhan. Karena itu, pengelolaan HPV tidak hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga pada edukasi gaya hidup sehat dan pemantauan berkala.
Di SKIN 3 Clinic, kelainan kulit di area genital ditangani dengan pendekatan yang profesional, aman, dan menjaga kenyamanan serta privasi pasien. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan diagnosis yang tepat, sehingga terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Seluruh penanganan kelainan kulit dan kelamin di SKIN 3 Clinic dilakukan di bawah pengawasan Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika. Dengan diagnosis yang akurat, penanganan yang tepat, dan edukasi yang benar, kelainan kulit genital akibat HPV dapat dikelola dengan baik, sehingga risiko komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan.
Sumber:
Maghiar, L., Sandor, M., Sachelarie, L., Bodog, R., & Huniadi, A. (2024). Skin lesions caused by HPV—A comprehensive review. Biomedicines, 12(9), 2098.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39335611/